Label

about me (2) CHILDHOOD (1) english (5) family (4) fiction (1) galau (8) gereja (3) jalan-jalan (1) jobseeker (1) junk (5) kuliah (1) memories (9) motivasi (1) prayer (1) quote (5) random (3) skripsi (6) teman (3)

Sabtu, 04 September 2010

MEREKA

MEREKA

Written by Desby Mian Berlianty Pasaribu

Saturday, August28’ 2010



Kata-kata indah..

Kalimat-kalimat bijak..

Siapa mereka? Dan dari mana mereka datang? Apakah aku benar-benar mengenal mereka?

Dengan tanpa basa-basi seperti hujan yang turun di siang hari bolong, mereka langsung berkata-kata dengan merangkai huruf-huruf menjadi kalimat yang sangat mempesona.

Menyusunnya sedemikian rupa sehingga membuai pendengaran anak manusia.

Mendadak semesta ternganga atas kecerdasan mereka dalam berkosa-kata melebihi para ahli filsuf.

Malaikat berhenti sejenak dari tarian gempita hendak mendengarkan apa yang dikatakan mereka.

Dan Iblis mengernyitkan keningnya dan menaikkan salah satu alisnya seperti bajak laut karena benar-benar terkejut atas susunan kata-kata indah yang keluar dari mulut manisnya.

Dia telah mendapatkan rival yang setara rupanya.

Rayuan verbal indah yang mendayu-dayu sungguh membuat jantung anak manusia berdebar dan berloncat riuh dari paru-paru sebelah kirinya.

Mereka berhasil mendapatkan tatapan sepasang mata yang paling sendu akibat terpukau dengan kata-kata indah yang mengalir ringan bagaikan angin yang berhembus mengawali musim semi mulai menyelip dari antara daun-daun hijau yang baru saja tumbuh..

Tidak ada yang berusaha menghentikan semangatnya dalam berceloteh ria.

Sehingga beberapa paragraf telah tercipta secara tidak kasat mata memenuhi ruangan bercampur dengan karbon dioksida yang melayang rendah disekitarnya.

Sungguh fantastik! Sebuah pertunjukkan lidah tak bertulang yang patut mendapatkan tepuk tangan berdiri dari seluruh penonton yang hadir.

Ternyata tidaklah percuma pendidikan yang mereka dapat selama ini.

Tapi mereka salah...

Mereka pikir anak manusia itu bodoh dan berotak udang.

Mereka pikir dia terlalu muda dan bukan siapa-siapa.

Mereka pikir dia anak ingusan yang tidak mempunyai pengalaman sama sekali.

Anak manusia itu bahkan bukan salah satu yang masuk dalam hitungan mereka.

Luar biasa hebatnya keterampilan otak kanan mereka.

Penguasaan linguistik yang tak bercela seperti gelas kristal swarovski yang menawan dan berkilauan.

Terpajang kaku pada etalase kaca toko yang membuat semua orang ingin berhenti sejenak dari mengejar waktu untuk memandanginya.

Mereka hanya berbicara!!

Hanya berbicara!! Sebuah usaha untuk menyelamatkan wajah mereka dari ketidakberdayaan dalam aktualisasi rangkaian kalimat indah mereka.

Fakta kosong yang menyakitkan...

Oh tidak, hentikan pandangan itu!!

Anak manusia tidak tahan dengan semua suara-suara itu.

Dia benci mereka. Sungguh dengan sangat!!

Terdengar indah di awal dan ketika pengaruh hipnotis tersebut hilang, tiba-tiba semua menjadi teramat memuakkan!! Anak manusia yang malang...

Ia ingin melarikan diri dan membenamkan kepalanya ke dalam bak mandi untuk mendapatkan sedikit kembali segenggam kesabaran yang telah terlepas.

Bertingkah seolah mereka yang paling mengerti hal yang sedang diperbincangkan.

Seolah yang paling berpengalaman merasakan asam garam kehidupan.

Seolah yang paling mengetahui hubungan sebab akibat fenomena dunia manusia.

Seolah yang paling cerdas dalam memecahkan berbagai kasus yang timbul.

Seolah mereka menaruh simpati dan empati terhadap apa yang anak manusia itu rasakan.

Mereka sungguh benar-benar bertingkah melebihi Tuhan.

Mereka pikir, mereka mengerti apa yang sedang anak manusia gumulkan.

Mereka berpikir anak manusia itu sedang dalam kondisi yang sangat baik.

Mereka melihat dia tertawa dan tersenyum dengan riang dan seolah tanpa beban.

Ternyata kamuflasenya berhasil dengan sempurna.

Anak manusia sebenarnya ingin menangis dengan suara yang paling nyaring dalam satuan desibel.

Tetapi semuanya tertahan di dada karena alam raya tidak mengizinkannya untuk berkabung dalam dukanya... tidak sedetikpun...

Seperti porcelen yang disekujurnya dipenuhi retakan-retakan halus.

Ia terlihat tetap cantik dari luar namun luka bersarang di dalamnya.

Menyedihkan... menyedihkan...

“Tolong”, anak manusia berteriak meringis meminta pertolongan dengan bibir tetap terkatup rapat.

Dalam diamnya, ia tidak sedang melamun, ia hanya sedang berpikir mengenai apa artinya ini semua? Dan untuk apa ini semua terjadi?

Tidak, anak manusia tidak suka melamun dengan kepala kosong...

Dia hanya sedang berpikir dalam kesunyian tanpa ingin diketahui orang lain, mencuri beberapa waktu untuk mencerna itu semua dan sedikit meditasi dengan mata terbuka.

Anak manusia yang ingin sekali mencari tempat untuk bersembunyi dari keramaian kerumunan manusia dewasa yang seperti kanibal...

Ingin meringkuk di sudut ruangan gelap dengan sedikit alunan lagu bernada putus asa sebagai teman dalam percakapan fiktifnya. Sebuah komplementer yang sempurna bagi hari yang mendung.

Terdapat lubang besar dihatinya, yang menyerap keluar sebagian jiwanya.

Meninggalkan ruang hampa dalam roh yang mati rasa...

Mungkin ia akan memutuskan untuk membersihkan kaki, cuci muka dan menggosok giginya.

Bersiap untuk melelapkan dirinya kembali kedalam dunia khayalannya seperti yang biasa ia lakukan.

Tempat terbaik yang dapat ia kunjungi hanya dalam sekali dalam sehari.

Namun sekaligus tempat terburuk ketika ia menyadari bahwa semua hanyalah ilusi belaka.

Rasanya seperti ada yang menancapkan pisau tepat di jantung, menembus barikade tulang rusuk dan menyesakkan rongga dada hingga kesulitan untuk bernapas.

Berharap besok ketika matahari menyapa seperti rutinitasnya pada hari-hari sebelumnya, hal itu berhenti menghatuinya lagi.

Semoga..

PIKIRAN DALAM MIKROLET

PIKIRAN DALAM MIKROLET

Written by Desby Mian Berlianty Pasaribu

Wednesday, Sept1’ 2010_20.38 PM

Di suatu sore yang sendu..

Di salah satu moda angkutan umum.

Di antara ribuan kerumunan kendaraan bermotor yang beringsut memadati seluruh ruas jalan Ibu Kota Jakarta.

Rombongan mesin-mesin raksasa secara massive menuju satu arah secara bersamaan, dimana tak tersisa satu sentipun ruang kosong bahkan memenuhi bahu jalan.

Saat itu, langit sore Jakarta bertabur warna yang agak sulit dideskripsikan, berwarna orange-lembayung keemasan yang mempesona namun ternodai oleh polusi kendaraan bermotor yang tidak lulus uji emisi sehingga menelan perpaduan warna sempurna tersebut menjadi kusam dekil bak cairan hitam cumi-cumi yang tersembur keluar akibat terkejut.

Diantara gedung-gedung beton berlapis kaca yang menjulang tinggi seperti ingin menembus surga mengalahkan kehebohan dongeng menara Babel.

Diantara residu pembakaran bahan bakar fosil yang tak sempurna yang menggerogoti lapisan ozon bumi dan sukses menimbulkan hujan asam yang bersifat korosif.

Diantara pohon-pohon kota yang meranggas hingga hanya meninggalkan ranting tua seperti kehidupan yang gersang.

Diantara manusia-manusia berwajah lelah dan berpakaian kantor yang sedikit agak lusuh.

Diantara para seniman jalanan yang identik dengan anti-kemapanan tengah menikmati petikan ukulelenya sendiri dengan suara yang sumbang dan fals tak bernada, suatu penistaan dalam dunia seni.

Diantara warung-warung tenda bercahaya temaram dengan kabel sambungan langsung kepada tiang-tiang listrik PLN yang menghiasi sepanjang pinggir jalan.

Diantara suara-suara klakson mobil dan motor yang saling bersahut-sahutan seperti sekelompok pasukan paduan suara yang kehilangan konduktornya.

Diantara sampah-sampah basah jalanan yang menyeruak keluar dari tempatnya akibat kelebihan kapasitas, telah membusuk dan menyiksa indera penciuman dengan aromanya.

Diantara rentetan seriosa suara para penjaja makanan bis kota.

Diantara celoteh para jiwa-jiwa yang sedang mengalami gangguan psikologis akut.

Aku berada diantaranya...

Duduk dibagian paling belakang sebuah mikrolet merah menuju Bekasi dari Depok.

Menatap kosong menembus kaca mikrolet yang terlihat sedikit kusam akibat lapisan debu yang cukup tebal.

Memandangi drama dadakan yang biasa terjadi antara pukul 5 sore hingga pukul 7 malam.

Opera sabun yang sangat buruk dengan rating terbawah.

Mikrolet merah seperti enggan berjalan namun juga tidak dapat terus berhenti diam.

Padat merayap. Oh, Ibu Kota Jakarta...

“Kalau tidak macet, namanya bukan Jakarta” itulah pameo yang sering terdengar.

Anggaran pemerintah terbuang sia-sia akibat kemacetan.

Subsidi membengkak seperti kanker yang menggerogoti pada stadium akhir.

Ekonomi biaya tinggi, Indonesiaku.. menguras kantong para manusia berpenghasilan tetap.

Keringat membasahi sekujur tubuh, kini sore hari tidak sesejuk dua puluh tahun yang lalu.

Dunia sedang gencar meneriakkan pemanasan global, namun lebih banyak yang memilih apatis.

Waktuku, waktu mereka waktu dirinya, dan waktumu habis menguap tanpa hasil di tengah jalan raya beraspal ala negara dunia ketiga.

Kendaraan-kendaraan yang kehilangan kesabaran terlihat berair akibat temperatur udara yang diatas normal persis seperti suhu yang diatur derajatnya pada ruang sauna.

“Kapan aku tiba di rumah?” tanyaku dalam hati berbisik sendiri kepada penguasa semesta.

Lambat, lambat sekali, dan kejenuhan sudah mulai menghinggapi bagaikan jamur yang tumbuh subur pada musim penghujan.

Hingga aku tertidur, terbangun, tertidur lagi, terbangun lagi, kemudian lagi-lagi tertidur, terbangun lagi dan menyadari mikrolet merah hanya bergerak sekitar sepuluh meter saja.

Seperti bom waktu yang hanya tinggal beberapa detik tersisa akan meledak dan menghancurkan semuanya hingga berkeping-keping. Aku muak.

Andaikan aku memiliki kekuatan teleportasi atau mempunyai sebuah firebolt seperti Harry Potter, mungkin aku tidak perlu bersusah-susah seperti demikian. Imajinasi tingkat tinggi namun tidak terlalu berlebihan jika kau berada dalam situasi tersebut. Keadaan ini membuatku sedikit kehilangan pikiran warasku, namun aku tentu tidak ingin berakhir menjadi salah satu anggota asosiasi manusia yang mengalami disfungsi otak dan mental di daerah Grogol hanya karena deretan kendaraan yang sulitnya bukan main untuk maju satu meter.

Dua jam berlalu, saat-saat penuh tekanan tanpa dapat berbuat apa-apa.

Hal ini lebih membantai batin ketimbang mengerjakan soal fisika dengan formula super rumit yang diciptakan oleh para orang sinting di masa renaissance dulu, paling tidak kau masih tetap dapat melakukan sesuatu walaupun ilegal dengan melihat sebelah kanan atau kirimu untuk memperoleh jawaban atau membuat catatan kecil yang diselipkan diantara lembar soal.

Seseorang harus disalahkan untuk semua kekacauan ini.

Para elit birokrat yang menjelma menjadi siluman tikus got hanya bisa menghisap habis iuran rakyat kepada negara sehingga perkembangan infrastruktur tidak berbanding lurus dengan laju pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor.

Jakarta akan menjadi sebuah kota Nekropolis!! Menakutkan..

Wajar saja jika rakyat menjadi skeptis terhadap otoritas publik bangsa ini, walaupun tidak bermaksud untuk mendiskreditkan namun fakta berteriak sangat lantang. Ini sebuah tirani sadis..!!!

Menerima resiko sebagai penghuni komuter fanatik Ibu Kota Jakarta seperti layaknya suporter sepak bola yang rela berdesakan dan bergumul diantara berjuta rupa bau keringat pepesan manusia hanya untuk menyaksikan tim jagoannya bertanding. Namun pada akhirnya hanya menuai kecewa karena kekalahan yang seharusnya tidak terjadi dan berujung aksi anarkis antar kubu hingga vandalisme yang semakin menggila.

Hal yang hampir mirip dilakukan oleh para penghuni temporer kota Jakarta.

Aku transit dan berganti mikrolet biru muda..

Akhirnya aku baru merasakan angin sepoi-sepoi mampir mengisi ruangan sempit dalam mikrolet biru muda yang sedang melaju dengan kecepatan maksimal jalan tol, 80km/jam.

Aku masih tetap memilih duduk paling belakang dan kembali hanya menatap menembus kaca mikrolet. Sepertinya ini hobi baru yang aku temukan dan rasanya tidak terlalu konyol. Paling tidak, ini tidak lebih konyol dibandingkan Paris Hilton yang berjalan santai dengan pakaian branded mahalnya sambil mengajak kambingnya yang diwarnai pink disekitar Time Square!!!

Mikrolet biru muda terus berlari kedepan meninggalkan semua hal yang terlewati dan tertinggal dibelakangnya tanpa ada niat untuk menunggu sejenak.

Aku seperti melihat hidupku yang sedang terus berjalan menuju ke depan dan meninggalkan masa lalu.

Entah akan bermuara kemana pada akhirnya, namun hidup memaksa harus terus menuju ke depan.

Ku pikir, “Siapa bilang tidak boleh melihat kebelakang?”

Masa lalu adalah rangkaian dari cerita hidupku, mereka adalah rantai penghubungku dengan masa kini dan masa depan. Aku rasa hanya butuh beberapa tetesan pelumas berkualitas terbaik untuk membuatnya berjalan lancar dan mengurangi gesekan yang mungkin akan timbul.

Masa lalu tidak akan dapat dilepaskan dari diriku, maka sebagian jiwaku akan hilang bersamanya.

Kau boleh sekali-kali melihat dan mengintip masa lalu.

Kenapa tidak?

Masa lalu adalah guru yang akan mengajariku untuk lebih baik dan bijak di masa kini dan masa depan, seperti mengetahui kunci jawaban pada saat soal telah dikumpulkan maka kau akan belajar lebih teliti untuk ujian selanjutnya.

Masa lalu mengatakan agar aku tidak mengulangi kebodohan yang sama lagi.

Masa lalu hanyalah masa lalu...

Ia tidak akan dapat diperbaiki lagi, tidak akan kembali, dan tidak akan terulang, maka jangan terlalu lama berkubang dalam duka masa lalu.

Ada masa kini dan masa depan yang sedang menanti perhatianku.

Sesuatu yang lebih besar dan lebih berharga telah berbaris dalam antrian menunggu giliran kapan aku akan menjemput. Tentu ini tidak seperti antrian para rakyat jelata yang sedang mengemis mengharapkan satu kilogram beras kualitas terburuk yang turun dari mobil bak program pemerintah, sembrawut dan seperti cacing kepanasan berebut menggeliat dengan tingkat kebisingan volume maksimal akibat kelaparan. Memperlihatkan kebodohan tradisi suku barbar yang tidak memiliki peradaban yang elegan ditengah-tengah kaum intelektual.

Aku tahu, aku sekarang sedang berdiri diantara jembatan kayu yang rapuh dan goyah, transisi diantara dua pilihan.

Terus maju atau terus berkabung dalam masa lalu seperti orang idiot.

Tidak, aku bukan seorang idiot...

Hidupku singkat...

Hidupku hanya sekali...

Hidupku adalah sebuah hadiah istimewa...

Aku tidak dapat membiarkan diriku hanya berakhir di tong sampah, terdekomposit oleh makhluk dekomposer yang mengerikan tetapi berakhir seperti batuan alam yang lahir dari perut bumi yang telah diproses sehingga tercipta suatu batu permata yang sangat berkilau dan paling kokoh yang pernah ditemui di jagat raya yaitu berlian.

Rabu, 01 September 2010

MENGAPA KAU DEMIKIAN?

Tuesday, January5th, 2009

Based On True Story

Written By Desby Mian Berlianty Pasaribu

Terdapatlah satu keluarga besar yang terdiri dari ayah, ibu, 3 anak perempuan, 2 anak laki-laki, seorang keponakan laki-laki dan nenek (ibu dari sang ibu). Awalnya keluarga ini terlihat normal saja, hingga mulai tampak gejala-gejala yang kurang beres dalam keluarga tersebut. Banyak terjadi masalah dalam intern keluarga ini. Si ayah sebut saja Mr. Asshole yaitu kepala keluarga yang ternyata tidak cukup bijaksana dan tidak dapat membina keluarganya dengan baik. Beliau tidak memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya. Ia adalah seorang supir angkot yang berpenghasilan pas-pasan untuk mencukupi keluargnya yang cukup besar apalagi istrinya hanyalah ibu rumah tangga yang berusaha menjual kue sesuai orderan saja. Tiap hari kerjaan si ayah adalah bermain judi dan togel seusai kerja.

Ia adalah seorang yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, itu sebabnya ia sering bergaul dengan teman-teman seprofesinya. Bermain judi sambil meneguk kopi atau tuak (minuman khas batak yang berasal dari fermentasi air nira yang mengandung alkohol yang cukup tinggi, rasanya agak kecut dan berwarna seperti susu namun agak kecokelatan) dan bersenda gurau dengan teman adalah saat yang paling menyenangkan setelah seharian bekerja, hal ini pasti sangat mujarab dalam melepas penat dan lelah. Tapi apa kabar dengan keluarganya dirumah? Pada kondisi normal sebaiknya sang ayah memberikan nafkah kepada keluarganya namun uangnya sudah habis untuk melakukuan hobinya yang kurang wajar tersebut dan seringkali ia pulang dalam keadaan mabok.

Anak-anaknya dan juga keponakannya sudah beranjak remaja dan dewasa. Hal ini telah membuat keluarganya kecewa. Bertahun-tahun hal ini telah terjadi. Satu berita baik dalam keluarga ini adalah anak pertamanya yang perempuan akan segera menikah. Sempat tersiar kabar bahwa keluarga calon suami tidak setuju akan hubungan mereka karena berita tentang sang ayah dari calon istri sangat terkenal apalagi dikalangan orang tua. Tentunya ini bukanlah hal baik, namun berkat pendekatan dari sang ibu dan kesungguhan si anak (yang ingin menikah) akhirnya hati keluarga calon suami luluh. Pada pertengahan tahun 2005 terjadilah pernikahan yang sakral itu dan sekarang mereka telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun kira-kira setahun setelah pernikahan mereka, kesehatan sang ibu sebut saja Miss. Long-suffering, berangsur memburuk.

Sebenarnya beliau telah mengidap penyakit tersebut sejak 4 tahun yang lalu. Penyakit tersebut adalah penyakit yang tidak biasa karena memang jarang orang yang mengidap penyakit yang maha dasyat itu dan bahkan tidak seorangpun yang berharap akan memiliki penyakit itu dalam hidupnya. Sang ibu mengidap penyakit kanker tulang stadium lanjut. Keluarga telah berusaha menyembuhkan sang ibu, empat dari lima anaknya telah bekerja. Yang paling bungsu hampir menamatkan sekolah tingkat pertamanya dan kakak-kakaknya semua lulusan sekolah tingkat atas. Jadi walaupun mereka sudah bekerja namun mereka belum menempati posisi menengah dalam jenjang karirnya dan sepertinya agak sulit untuk mendapatkan promosi dengan jenjang pendidikan yang mereka miliki.

Anak kedua bernama Mr. Humble, berumur sekitar 26 tahun bekerja di pabrik makanan kaleng sebagai buruh. Sedangkan anak ketiga dan keempat yang bernama Mis. Smiling-faced dan Mis. Skinned, berumur 24 dan 23 tahun, keduanya bekerja di supermarket yang berbeda dengan posisi yang sama yaitu kasir. Mereka berempat (bersama kakak tertua mereka yang telah menikah bernama Miss. Lucky) saling bahu membahu dalam menyembuhkan ibu mereka dari penyakit tersebut. Obat-obatan yang dibutuhkan tergolong mahal dan kondisi ini diperburuk dengan ayah mereka, Mr. Asshole, yang semakin jarang menafkahi keluarga dan semakin jarang pula pulang kerumah. Maka otomatis keuangan keluarga ditanggung bersama oleh anak-anak Mr. Asshole.

Sebagian besar dari uang gaji mereka terserap dalam pembelian obat-obatan untuk ibu mereka. Seorang tetangga yang baik dan sebenarnya masih ada hubungan saudara dengan mereka memberikan perhatian pada keluarga ini. Tetangga ini adalah suatu keluarga kecil dengan seorang ayah, ibu, dan 3 orang anak. Ibu dari tetangga ini adalah seorang perawat dan bekerja disalah satu rumah sakit pemerintah di Jakarta Selatan. Beliaulah yang rajin merawat dan menjenguk Miss. Long-suffering. Bahkan jika diperlukan malam hari sekalipun ia siap membantu. Ibu perawat ini sebenarnya telah lama menyarankan kepada anak-anak Miss. Long-suffering untuk membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif.

Namun apa daya, merekapun sebenarnya sangat ingin membawa ibu mereka tercinta ke rumah sakit tapi keadaan kurang mendukung. Akhirnya beliau hanya mendapatkan perawatan seadanya di rumah. Keadaannya sangat memprihatinkan. Dagingnya menciut seperti menguap ke udara karena digrogoti virus ganas dan hanya meninggalkan tulang belulang. Persis seperti tengkorak namun ia masih bernapas dan masih hidup. Sendi yang menghubungkan antar tulangpun sudah terpisah dan seakan-akan telah tercerai-berai terlihat jelas membayang dari kulit keriputnya yang tipis, dan kau akan sangat merasa bersalah jika mencoba mengangkat tubuhnya yang rapuh itu. Aku tidak tahu bagaimana jadinya tulang-tulang tersebut jika tanpa kulit yang masih melapisinya.

Yang tersisa pada tubuh cantiknya sekarang hanyalah lapisan kulit yang rusak dan keriput yang sangat jelas membentuk setiap segi tulang-tulang tubuhnya. Sungguh mengerikan. Tubuhnya sangat ringan karena tidak ada lagi lapisan lemak disana, di dalam tubuhnya. Rambutnya yang putih semakin rontok dari hari kehari hingga hampir membotak. Ia sama sekali tidak dapat berjalan atau sekedar duduk dan hanya terbaring lunglai dikasurnya. Untuk bergerak sedikit saja, rasanya sakit luar biasa. Ketika anaknya ingin membersihkan tubuhnya yang kurus kering itu, serentak ia mengerang kesakitan karena lengannya digerakkan untuk membersihkan ketiaknya. Sudah lama sekali rasanya ia tidak merasakan nikmatnya mandi di pagi dan sore hari.

Untuk berkomunikasipun ia sangat sulit dan yang keluar hanyalah gumaman yang tidak jelas. Tangan kirinya diinfus untuk mengalirkan makanan cair yang mengandung beberapa macam vitamin dan mineral ketubuhnya karena ia tidak tidak sanggup menguyah lagi, lagi pula giginya sudah kandas semua. Manusia suatu saat akan kembali lagi seperti bayi, sepertinya kalimat tersebut ada benarnya juga karena beliau sekarang memakai diapers. Wajahnya terlihat sangat tua daripada umur sebenarnya padahal ia baru berumur sekitar 50 tahun namun terlihat seperti berumur ratusan tahun lebih tepatnya seperti nenek sihir yang sudah waktunya memfosil. Menakutkan sekaligus menyedihkan. Anak-anaknya dengan sabar menahan perasaan melihat kondisi ibunya yang terbaring tak berdaya, juga menahan emosi karena Mr. Asshole yang tidak bertanggung jawab serta tidak peduli dengan keadaan keluarga.

Ingin menangis juga sepertinya hanya membuang tenaga sia-sia. Ingin berteriak namun tidak tahu harus kepada siapa melampiaskannya. Ingin menyalahkan Tuhan, tidak, mereka sangat bersandar kepada kekuatanNya. Sepertinya masalah datang sekaligus tanpa ada yang benar-benar selesai tapi malah menumpuk dari hari ke hari. Entah bagaimana rasanya menjadi mereka jika kubayangkan. Hidup seperti dineraka, di bawah tekanan emosi dan kesedihan setiap bangun di pagi hari menjelang tanpa ada kepastian kapan hal itu akan berakhir. Sangat mengiris hati, jika mengingat betapa cantiknya Miss. Long-suffering dulu dan betapa aktifnya ia dalam pelayanan di suatu gereja tradisional batak protestan yaitu HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di wilayah tempat tinggalnya. Keadaan beliau sangat berbeda dengan ibunya, yaitu nenek dari anak-anaknya, umurnya sekitar 88 tahun. Ia adalah seorang wanita tua yang penuh dengan semangat sepertinya tidak ada yang dapat mengalahkan semangat dirinya.

Bahkan ia masih bisa membawa beras 15 liter, belanja sayur-sayuran ke pasar, jalannya masih tegap bahkan kalau diajak berlari mungkin beliaupun masih bisa dan mungkin saja aku yang kalah. Jangan tanya apakah ia masih bisa menguyah dan jawabannya adalah pasti karena giginya masih lengkap, sangat bagus. Penulispun belum pernah melihat seorang tua yang sangat begitu bersemangat dalam menghidupi hidupnya. Ditengah segala masalah yang dihadapainya ia masih bisa tersenyum bila orang menyapanya dengan “selamat pagi, ompung!!” Dasyat! Itu adalah satu kata yang paling tepat mendeskripsikan dirinya. Kegigihannya, kesabarannya, cara pandangnya, dan kasihnya. Semasa sehatnya, Miss. Long-suffering ini ternyata sering mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya dan sering kali berucap kata-kata kotor.

Hal ini tidak hanya terjadi pada orang yang telah dipilihnya sebagai pendamping seumur hidupnya tapi juga kepada anak-anaknya. Sampai saat ini penulis masih bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang yang mengaku menyayangi pasangannya tapi memperlakukannya dengan kasar? Bagaimana pemahamannya mengenai kasih? Jika seseorang memiliki rasa sayang, ia tidak akan menyakiti, memaksa, atau bahkan merugikan pasangannya. Ini sungguh diluar jangkauan pemikiran sang penulis. Telah dijelaskan diatas, Miss. Long-suffering membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kue sesuai dengan orderan dan mendapatkan penghasilan tambahan lainnya dari pekerjaan dirinya sebagai Sintua (semacam petinggi di gereja) di gereja HKBP tersebut, namun hal ini tidak cukup rupanya untuk mewujudkan keinginannya yang ingin menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi dan harus rela melepaskan impian itu terbang ke angkasa, menguap dan menghilang dengan bersusah payah berjuang sendiri (walaupun ia belum menjadi seorang janda, tapi itulah yang dirasakannya) menamatkan anak-anaknya pada pendidikan tingkat menengah atas.

Itupun sudah sangat disyukurinya. Ibu dari Miss. Long-sufferinglah yang selalu setia membantu usaha anaknya itu. Sungguh menyesakkan, karena setiap kali Miss. Long-suffering meminta pertanggungjawaban dari lelaki yang telah dipilihnya dan dinikahinya sekitar 29 tahun lalu didepan altar gereja dihadapan Tuhan yang didapatnya adalah layangan ringan dari telapak tangannya tidak hanya diwajahnya namun di bagian tubuhnya yang lain, anak-anaknya pun kerap kali mendapati peristiwa itu terjadi didepan mata mereka. Sang nenek pun sudah berusaha untuk menasehati menantunya itu, tapi tentu saja bagi Mr. Asshole itu hanya angin lalu dan nenek pun tidak dapat berbuat lebih dari hal itu. Akhirnya sang nenek sering datang untuk menceritakan keluh kesahnya ke rumah ibu sang perawat tadi yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya.

Sambil menangis ia bercerita panjang dan lebar, bayangkan siapa yang tega membuat seorang nenek-nenek renta menangis diusianya yang telah begitu lanjut seharusnya ini saatnya dia menikmati sisa hidupnya, bukan?! Untungnya, keluarga si ibu perawat itu menaruh kasih pada keluarga yang sedang berkonflik ini namun juga tidak bisa mengintervensi secara lanjut dalam masalah intern mereka. Penyakit telah dirasakan oleh Miss. Long-suffering dengan keluhan tulang-tulangnya sering terasa keram dan ngilu yang dipikirnya adalah asam urat atau flu tulang biasa, sehingga beliaupun tidak memeriksakan kondisinya lebih lanjut kepada dokter. Hingga pada akhirnya, rasa sakit yang ngilu itu bertambah parah setelah 3 tahun dideritanya.

Kemudian akhirnya, barulah anak terbesar dari Miss. Long-suffering yaitu Miss. Lucky menyarankan untuk membawa ibunya check-up ke rumah sakit terdekat dan betapa terkejutnya mereka bahwa selama ini yang dideritanya adalah kanker tulang! Entah datang dari mana virus itu, tapi keadaannya sudah sangat terlambat. Mengetahui penyakit yang dideritanya, Miss. Long-suffering semakin merasa putus asa karena suaminya, Mr. Asshole, tetap tidak memberikan respon positif dengan keadaan istrinya yang semakin memburuk bahkan masih melakukan kebiasaan terkutuknya itu. Beberapa kali kabar burung terdengar bahwa sebenarnya Mr. Asshole memiliki wanita idaman lain. Dapat kau bayangkan jika kau ada dalam posisinya? Sungguh ironis.

Anak ibu perawat tersebut pun beberapa kali menemani sang ibu perawat itu untuk menjenguk sekaligus mengecek keadaan Miss. Long-suffering, setiap kali menjenguk matanya selalu sembab, ia menangis!! Oh, Tuhan! Hatimu akan terasa teriris melihat keadaannya itu. Anak ibu perawat tidak tahan! Sudah sering kali pendeta dan jemaat dari gereja HKBP menjenguk dan mendoakan untuk kebaikan kondisinya namun setiap kali mereka datang berkunjung ke rumahnya, Mr. Asshole selalu saja tidak ada di tempat. Kemana dirinya pergi? Tidak usah repot mencari jawabannya, sudah pasti ia melakukan ritual terkutuknya itu, kawan! Beberapa kali juga pendeta datang secara personal untuk menasehati Mr. Asshole namun tidak pernah satu katapun yang dapat meluluhkan hatinya.

Akhirnya, melihat kondisi yang bertambah parah, anak-anak Miss. Long-suffering tidak dapat lagi menahan melihat penderitaan ibu mereka sehingga mereka terpaksa membawanya ke rumah sakit dengan bantuan finansial dari suami Miss. Lucky yang cukup berada saat itu tanpa ada campur bantuan dari Mr. Asshole. Sudah lama timbul kebencian dihati anak-anak itu, apa lagi pada anak yang paling bungsu, Mr. Helplessness yang saat ini telah kelas 2 SMA. Ketika masuk ke rumah sakit, Miss. Long-suffering langsung mendapatkan perawatan yang intensif. Anaknya secara bergantian menemani Miss. Long-suffering, pada hari yang ketiga tibalah giliran Mr. Humble untuk menemani ibunya di rumah sakit. Saat itu telah larut malam dan Mr. Humble mendengar gumaman ibunya yang meminta air untuk minum.

Rupanya dia sangat haus saat itu, kemudian Mr. Humble menyuapi air dengan sendok makan ke mulutnya. Namun, mulutnya tidak dapat terbuka lebar dan setelah tiga kali sendokan ke mulutnya. Miss. Long-suffering menghentikannya dengan gelengan kepala yang sangat lambat dan lembut. Seketika Mr. Humble tidak dapat lagi menahan perasaannya yang selama ini tertahan, ia menangis melihat kondisi ibunya yang saat itu masih tetap terbaring layu dan wanita tersebut menitikkan air mata juga. Air matanya menetes di pelipis matanya yang keriput dengan tanpa isak tangis, sangat sunyi. Kepedihan yang sangat mendalam. Kemudian Mr. Humble memeluk ibu tercintanya itu, saat itu jam dua pagi. Itulah saat terakhir ia melihat ibunya. Miss. Long-suffering kini tidak akan merasakan penderitaannya, kini ia telah terlepas dari segala sakitnya yang selama ini ia coba untuk bertahan. Ia beristirahat dengan nyenyak untuk pertama kalinya di pelukan anak keduanya, Mr. Humble dengan senyum simpul tipis terukir pada wajahnya yang kaku membeku.

Ia syok mendapati ibunya yang kini telah tidur dengan sangat lelap di depan matanya untuk selamanya, kemudian saat itu juga ia memanggil dokter dengan harapan agar ibunya dapat membuka matanya lagi. Namun, sia-sia. Kemudian Mr. Humble menelepon semua saudara kandungnya dan terang saja mereka semua kaget seperti tersambar petir di tengah malam. Malam itu, ibu perawat mendengar lolongan anjing yang sangat gaduh dan sepertinya sangat sedih seakan memberitakan kabar buruk akan terjadi. Ternyata itu untuk mengumumkan berita kepergian Miss. Long-suffering. Keesokan harinya, telah banyak orang berdatangan dengan memakai seragam serba hitam. Saat dimana Miss. Long-suffering akan dikembalikan kepada sang pemilik kehidupan dengan ritual acara keagamaan.

Pada saat acara pemberian kesaksian dari kerabat terdekat mengenai Miss. Long-suffering semasa ia masih hidup, terdengar suara erangan tangis yang sangat gaduh dan mengisi seluruh ruangan serta sontak seluruh orang yang datang mengarahkan pandangannya pada sosok itu. Dia adalah Mr. Asshole, yang menangis histeris dan tersedu-tersedu seakan benar-benar merasa kehilangan. Semua orang sudah tahu bagaimana perilakunya selama ini, sehingga tidak satupun dari mereka yang merasa simpati maupun tersentuh dengan tangisnya itu. Anak-anaknya pun memandang hina terhadap sosok yang sedang menangis dengan histeris itu. Bahkan, anak yang paling bungsu, Mr. Helplessness, sempat mencaci pria itu di depan umum.

Ini adalah luapan kebenciannya yang selama ini telah terakumulasi, manifestasi atas semua tindakan Mr. Asshole. Hari pemakaman dan upacara itu telah berlalu, namun kesedihan masih menghinggapi keluarga tersebut. Satu hal yang kontras adalah Mr. Asshole, telah kembali ke dirinya yang semula. Kini semua benar-benar yakin bahwa tangisan yang super histeris saat itu adalah sebuah sandiwara. Hal ini terbukti dengan setelah hari itu, ia tidak lagi kembali ke rumah dan sering terlihat sedang bermain judi dengan teman-temannya sambil asik meneguk tuak dan menghisap rokok. Anak-anaknya sudah tidak mau tahu lagi tentang ayah mereka, mereka sudah terlalu kecewa dan putus asa. Beberapa bulan setelahnya, anak ibu perawat bertemu dengan Mr. Humble dan sempat berbincang sejenak.

Anak ibu perawat berpikir ada yang aneh dengan dirinya, ia terlihat tidak seperti biasanya, tubuhnya sangat kurus. Ini sangat tidak wajar, dalam pikirnya. Kemudian beberapa hari selanjutnya, Mr. Humble datang menemui ibu perawat dan bercerita mengenai keluhannya yang sering merasa sakit kepala/ pusing yang tak terkira rasanya. Ia mengaku pernah pingsan karena sakit kepalanya tersebut. Awalnya ibu perawat memberikan semacam obat pain killer untuk mengurangi rasa sakitnya, ternyata obat tersebut tidak memberikan efek terhadap penyakit yang dideritanya. Malah sepertinya makin menjadi-jadi rasa sakitnya, keluhnya pada ibu perawat dilain hari. Hingga akhirnya Mr. Humble mengaku bahwa ia telah mengalami hal itu dari setahun yang lalu.

Namun dirinya tidak menaruh curiga akan hal itu dan bahkan tidak terpikirkan olehnya untuk memeriksa kesehatannya ke dokter. Mendengar hal itu, ibu perawat mengusulkan Mr. Humble untuk melakukan CT-scan. Berdasarkan usulan ibu perawat itulah, Mr. Humble melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit yang sama, tempat dimana ibunya dulu dirawat. Setelah mendapatkan hasilnya, ia membawa hasil rontgen otaknya ke ibu perawat dan bercerita ternyata ia mengidap penyakit yang tidak kalah seriusnya dengan ibunya terdahulu yaitu kanker otak. Ia merasa seakan dunia runtuh seketika menimpa dirinya, padahal dia telah berencana untuk menikah tahun depan dengan kekasih hatinya.

Ibu perawat tidak dapat berbuat banyak selain memberikan dorongan moril kepada dirinya. Mendapati kabar tersebut, beberapa minggu kemudian ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita yang sangat dicintainya. Ia merasa, Tuhan sangat kejam terhadap dirinya, ia merasa tak pernah sedikitpun Tuhan membiarkan dirinya bahagia dan menikmati hidup yang telah ia berikan kepadanya. Kini semangat hidupnya sudah benar-benar lenyap. Sebenarnya, walaupun penyakitnya tersebut sangat serius masih terdapat kemungkinan untuk sembuh jika ia rajin secara teratur meminum obatnya. Namun, harga obat-obatan yang begitu mahal, ia tidak dapat menjangkaunya lagi. Dirinya hanyalah pegawai pabrik di suatu perusahaan makanan kaleng.

Adik-adiknya pun berusaha membantu tapi mereka juga tidak dapat berbuat banyak lagi. Hingga akhirnya, ia benar-benar menghentikan obat-obatan tersebut. Betapa putus asanya dirinya, ia merasa seorang diri dalam menyelesaikan masalahnya. Hidupnya menjadi sangat hambar dan kini tak sedikitpun senyum yang terlukis dalam wajah Mr. Humble. Untuk kesekian kalinya, Mr. Asshole masih tetap menutup mata atas semua keadaan yang terjadi di depan hidungnya. Keluarga yang sangat menyedihkan. Keadaan Mr. Humble semakin memburuk, tubuhnya kini sungguh mengembalikan memori akan keadaan Miss. Long-suffering saat itu. Kabar yang makin sering terdengar adalah lagi-lagi ulah, Mr. Asshole yang sekarang mulai secara terang-terangan menunjukkan kekasih barunya di depan umum dan di depan anak-anaknya.

Sekarang ia hanya pulang sekali seminggu ke rumah anaknya dan selebihnya di rumah wanita itu, padahal mereka belum menikah! Berita ini telah simpang-siur di telinga warga setempat dan telah berhasil membuat malu anak-anaknya, keponakannya, dan nenek tua yang renta itu. Mereka merasa kehilangan muka, kini anak-anaknya semakin jarang menunjukkan wajah mereka di depan umum. Kecurigaan saat itu kini telah benar-benar terbukti, kecurigaan dimana Mr. Asshole memiliki wanita simpanan lain. Akhirnya, berita ini sampai ke telinga majelis gereja, sehingga Mr. Asshole diberi hukuman yaitu Mr. Asshole dibawah hukum siasat gereja (hukuman dimana seseorang tidak dianggap sebagai jemaat karena perbuatan yang tercela dan dibacakan di depan jemaat gereja dalam kebaktian).

Ini sangat memalukan keluarga, hal ini membuat anak-anaknya tidak berani lagi datang ke gereja dan memutuskan untuk pindah ke gereja lain. Mereka tidak sanggup menghadapi tatapan orang-orang kepada diri mereka atas ulah ayahnya itu. Tentu ini bukanlah berita baik, bukan berita yang dapat memicu semangat Mr. Humble untuk berjuang dalam sisa hidupnya. Keadaan Mr. Humble kian memburuk hingga akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit, namun perawatan di rumah sakitpun tidak membantu banyak dalam perbaikan kesehatan Mr. Humble. Seperti terdahulu, saudara dan juga neneknya secara bergantian menjaganya tiap malam. Setelah hampir tiga minggu mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit yang sama juga dengan ibunya saat itu dirawat, akhirnya Mr. Humble pun melepas semua rasa deritanya dan menyusul ibunya di surga bersama Tuhan, didepan neneknya malam itu setelah meneguk beberapa sendok makan air mineral.

Persis sama seperti peristiwa terakhir dengan Miss. Long-suffering. Belum kesedihan terdahulu benar-benar sembuh, kini kesedihan lain datang menghinggapi keluarga tersebut lagi. Kemudian Mr. Humble dimakamkan ditempat yang sama dengan ibunya dimakamkan. Pertengahan tahun berikutnya, yaitu 2009 akhirnya Mr. Asshole telah resmi menikah dengan dengan wanita itu dan kini ia resmi menjadi ibu tiri atas Miss. Lucky, Mis. Smiling-faced, Mis. Skinned, dan Mr. Helplessness. Sedangkan keponakan laki-laki Miss. Long-suffering pindah karena keluarga tersebut tidak sanggup menyekolahkannya lagi (selama ini, Miss. Long-suffering, selain bertanggung jawab untuk membiayai sekolah anaknya juga membiayai keponakannya yang datang dari Samosir tersebut).

Karena anak-anaknya tidak mau menerima kehadiran wanita itu di rumah mereka dengan terpaksa Mr. Asshole mengontrak sebuah rumah baru yang jaraknya tidak jauh dari rumah anak-anaknya. Anak-anaknya tidak pernah lagi mempunyai niat untuk berbicara bahkan untuk melihat wajah Mr. Asshole ataupun dengan istri barunya. Mereka muak, sangat muak dengan manusia yang disebut ayah mereka itu. Mereka berharap tidak pernah mengenal pria yang sedemikian bejatnya dalam hidup mereka. Dia adalah mimpi terburuk dalam kehidupan mereka selamanya. Sakit hati mereka telah terlalu dalam dan akan sangat sulit untuk disembuhkan. Terlalu banyak penderitaan yang telah mereka rasakan akibat pria itu, terlalu banyak air mata yang telah mereka keluarkan akibat menahan emosi atas tingkah pria itu, dan terlalu banyak luka di hati mereka yang telah ditorehkan akibat perilaku pria itu. Hingga kini hubungan mereka tidak pernah menunjukkan gejala perbaikan antara ayah dan istri barunya dengan anak dan ibu mertuanya. Sekian.

AKU INGIN MENANGIS

Written By Desby M B Pasaribu

Monday, August 30’ 2010


Tiba-tiba aku ingin menangis.

Entah kenapa aku ingin sekali menangis.

Banyak sekali... terlalu banyak.

Aku ingin bercerita, bahwa aku sakit dengan ini semua.

Aku merasa sangat lemah sekali.

Aku tidak tahu apakah aku sanggup dengan semua ini.

Oh, Aku ingin menangis.. sungguh aku ingin menangis.

Aku ingin pulang dan memeluk seseorang.

Aku takut, ketakutan ini membunuhku.

Perasaan bersalah ini mengiris jiwaku.

Khawatiran ini menghantuiku.

Tanggung jawab ini membebaniku.

Aku takut menghadapi kenyataan saat ini.

Banyak hal yang sedang melayang menghinggapi kepala ini.

Aku merasa bersalah karena ada jiwa yang telah tersakiti, terluka olehku.

Aku merasa khawatir karena ada jiwa yang sedang menggantungkan harapannya padaku.

Aku merasa takut karena ada jiwa yang telah berkorban begitu besar untukku.

Aku merasa bertanggung jawab karena ada jiwa yang telah memberikan kepercayaannya padaku.

Aku tak ingin mengecewakan semua jiwa-jiwa itu.

Sebut aku cengeng!!! Tidak apa...

Aku lelah terus berusaha tegar dan selalu menahan.

Tetapi aku hanya ingin menangis saat ini...

Aku ingin menangis sekencang-kencangnya

Aku ingin meluapkan semua emosiku.

Maka aku menangis..

Minggu, 08 Agustus 2010

SEORANG LELAKI

SEORANG LELAKI

Friday, January 08, 2010 – 11.25 AM

Written by Desby Pasaribu



Baiklah, ku rasa saatnya untuk introspeksi diri. Merenungi apa yang telah terjadi tanpa berlarut-larut.

Semua ini karena ulahku bukan karena siapa-siapa yang sebelumnya telah kujadikan kambing hitam atas semua hal yang tidak beres itu. Itu semua hanyalah luapan emosi jiwa muda yang masih sangat labil.

Ternyata aku belum belajar apa-apa selama ini, tak sedikitpun. Apa aku sudah terlambat untuk menyadarinya? Sulitnya untuk berlapang dada dan berdamai dengan masa lalu, kalau bukan karena dirinya mungkin aku sudah tenggelam dalam keputusasaan yang kubuat sendiri. Itu konyol dan sangat buruk adanya.

Dirinya adalah seorang lelaki yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku dan selalu ada dalam hatiku selamanya.

Entah bagaimana hidupku jika tanpa lelaki itu. Dirinya sangat berarti bagiku, dalam hidupku dan dalam segala hal.

Sungguh, aku sangat banyak berhutang budi padanya dan aku tak tahu bagaimana cara membalasnya agar setimpal.

Dirinya selalu ada untukku ketika ku dalam saat-saat terburuk dalam hidupku. Kuingat saat itu ketika ku mengalami kegagalan dan itu sempat membuatku depresi habis-habisan hingga takut keluar rumah, takut bertemu orang lain, takut ditanyai orang lain, takut ketika mendengar telepon berbunyi, takut akan masa depanku dan yang terburuk adalah aku takut hidup!

Hidupku sangat kacau saat itu, bertingkah seperti orang bodoh atau lebih tepatnya seperti mengidap down syndrome. Asyik dengan dunia kelam yang tanpa semangat dan harapan, sungguh mengerikan. Seketika aku tidak dapat berbuat apa-apa dengan baik, semua yang ku kerjakan malah semakin tidak karuan. Mereka pun bingung melihat kondisiku yang seperti itu, mereka cemas. Terlebih lelaki itu, lelaki yang menyandang namaku.

Untungnya dia berhasil menyelamatku dan membangkitkanku dari masa berkabung. Dia benar-benar berhasil. Lelaki itu adalah Tuhan bagiku. Dirinya memotivasi diriku, meyakinkanku bahwa aku masih dapat melakukannya di lain hari dengan lebih baik, meyakinkanku bahwa dunia belum berakhir, meyakinkanku bahwa Dia akan membantu, meyakinkanku bahwa itu hal yang sangat wajar dan dialami oleh setiap orang, meyakinkanku bila ku mau berusaha lebih keras lagi maka aku akan bisa menggenggam itu, dan meyakinkanku bahwa dirinya akan selalu ada dan selalu mendukungku. Hingga akhirnya aku benar-benar dapat meraih hal itu! Ini adalah mimpi pertamaku yang menjadi nyata dan hingga kinipun aku merasa semuanya masih seperti mimpi, terlalu indah untuk menjadi nyata. Sungguh. Kemudian aku mulai melupakan semua kekhawatiran yang tidak beralasan itu dan menyambut masa depanku dengan apa yang ku dapat.

Lelaki itu mengatakan, ini adalah pintu gerbang pertamaku yang telah berhasil ku buka, selanjutnya akan masih ada beberapa yang harus kubuka dengan kuncinya masing-masing untuk melepaskan gemboknya dan kau harus tepat waktu di setiapnya. Dan aku tahu resiko yang harus ku tanggung…

Sekarang, ketika aku merasa sangat buruk dia kembali membesarkan hatiku. Lelaki itu mengingatkan ku lagi bahwa semuanya akan baik-baik saja, sama seperti dulu. Aku sudah tahu akan semua itu tapi aku membutuhkan seseorang untuk mengingatkanku dan dialah orangnya.

Dirinya tidak pernah menyalahkanku sekalipun itu memang sesungguhnya adalah kesalahanku.

Tidak, dirinya tidak mengajariku untuk menjadi seorang yang manja tapi mengajariku untuk melihat sisi lain dari semua kesalahan itu, mengajariku bahwa ada sesuatu yang perlu diberi sedikit perbaikan, mengajariku bahwa ada sesuatu di balik hal itu, dan mengajariku untuk melihat dari berbagai sisi.

Tanpa lelaki itu, tanpa lelaki itu, mungkin aku sudah tinggal nama atau tinggal sejarah di dunia. Aku sangat membutuhkannya.

Aku ingin meniru semua tingkah lakunya, aku ingin menjadi seperti lelaki itu. Jika saja dahulu dirinya mempunyai kesempatan yang lebih baik, jika saja dahulu orangtua lelaki itu bersamanya sedikit lebih lama. Aku sangat yakin maka dia akan menjadi orang yang sangat berpengaruh saat ini. Walaupun demikian ia memang menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam hidupku, kecerdasannya selalu mengagumkanku. Aku iri dengan itu, dapatkah aku memiliki kecerdasan yang sedemikian rupa sepertinya? Lelaki itu adalah sahabat terbaikku dan sekaligus guru yang sesungguhnya. Dirinya adalah orang yang selalu menghabiskan banyak waktu denganku untuk berbincang-bincang, membahas apapun entah itu politik, kehidupan sosial, adat istiadat bahkan mempelajari karakter orang dari wajah mereka. Aku rasa dia tidak kalah bijak dengan Lao Tse, Aristoteles, Mark Twain, Carnegie dan ahli-ahli filsuf dunia lainnya bila dalam hal berfilosofis.

Lelaki yang jika meneleponku selalu mengatakan “I love you full!!” yang dianggapnya adalah sebagai password untuk menerima suaraku dari seberang telepon.

Aku ingat saat itu, saat aku masih belum dapat membaca dan menulis namun lelaki itu telah mendaftarkanku di sekolah dasar. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika ujian yang kulakukan hanyalah menangis dan menangis tanpa satu soalpun yang dapat terjawab dengan sempurna. Lelaki itu selalu menemaniku…..

Lelaki yang berpikir tidak seperti kebanyakan orang, mungkin orang berpikir mengenai sesuatu itu adalah salah tapi bisa jadi baginya itu benar dengan argumen yang rasional dan logis untuk memberikan eksplanasi sebab akibatnya.

Aku ingin dirinya selalu ada untuk mengingatkan ku dan membesarkan hatiku.

Mungkin saja dia tidak akan selalu ada untukku selamanya dan jika saatnya telah tiba, pastilah itu saat dimana aku telah siap menghadapi semuanya. Saat dimana akulah yang bertugas untuk memotivasi diriku sendiri tanpa dirinya lagi.

Bagian terbaiknya adalah bangkit kembali ketika kau jatuh.

Aku sangat mencintaimu, Ayahku.

WHEN I

WHEN I

Monday, December 21st, 2009 – 8.45 PM

Written by: Desby Mian Berlianty Pasaribu


When I inhale deeply, it means that I try to relax and try not to think about my problems for a while…

When I silent, it means that there’s something which I take seriously in thinking…

When I talk, please pay attention because I care about you…

When I sleep, I’m about preparing myself for the unpredictable things which are going to be happened…

When I smile, it means that I just want to keep my burdened heart alone…

When I cry, it means that I can’t handle my deals any longer and I do really need help…

When I make mistake, it means that I need someone to put me back on track and remind me that everything will be fine…

When I angry, it means that I have lost my control. I need your advice to put my emotion cool down and assure me that it is just a piece of cake.

When I scared, it means that I totally desperate of something and need to be accompanied. I beg you not to let me here alone by myself.

When I worry, it means that I lack of confidence and faith. Motivate me in order to take back my spirit and push me to finish all the things I’ve started…

When I put my face down, please don’t stay away from me because I need to be supported and you are the only one I know that I can count on…

When I put my face up, I’m hoping that I could to be strong to face the worst and all at once wishing for our relationship will last forever…

When I see straight to your eyes, it means that you are really mean for me, so I thankful because of knowing and having you in my life…

When I hug you, I release about 30% of my pain because I know that I’m not alone. You comfort me in anyway which I couldn’t explain and I know there always be a shoulder which I could lean on…

All I want to say is without you I am nothing. Thank you…

HUMAN AND PAPER

HUMAN AND PAPER

Desby Mian Berlianty Pasaribu_ Wednesday, June9 ‘2010



Okay, in solving human’s matters are totally different in the manner of completing lecture’s papers.

In completing lecture’s papers, I do need many sources which are useful to determine the contents and the ending result.

Yes, more i search sources from many kind of media in completing my lecture’s papers, then i can finish my assignments quicker and ofcourse more comprehensive because I am compounding a lot of informations and theories from the experts or etcetera.

I am totally plenipotentiary on my paper.

It is my descretionary about what would i write or remove.

From the preface, contents, ending, conclusions, and even the cover, i decide them.

Whether it is good or bad, all depends on me, depends on what i have done.

Yet, unfortunately this method can not be implemented in solving human’s matters. Indeed.

More you search sources (ask others) in order to look for the solution, more you confused.

You don’t have 100% authority or control on others (the person that you have conflict with).

The theories that you have learned, might not delivered results as you desired to be happened or accorded to the ideal results of the theories themselves.

Human are so hard to understand, they are damn complex.

They are not things, they are creatures with feelings and thoughts.

... And i have forgotten it.